Saturday, May 6, 2017

Let Me Walk Beside You Part.1 - Let's Talk


Januari, hari ketika langit temaram dan matahari sudah kembali ke persembunyiannya. "April keluarga aku kesana ya". Tanpa perlu penjelasan rinci maksud perkataanmu, aku sudah mengangguk sumringah. "Ngobrol aja kan?" jawabku dengan sedikit terselip rasa kecewa, April? Mengapa harus menunggu selama itu? Bukankah hal baik harus disegerakan? Seperti paham apa yang ada di kepalaku, kamu melanjutkan, menjelaskan satu dua pertimbangan yang sudah kamu pikirkan, aku mengerti.

Kini, tiga bulan sejak hari itu, entah kenapa tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulutku saat quality time dengan Mamah. "Mah, mending ngobrol dulu aja kan ya?" "Loh, ya langsung aja atuh ngapain pake ngobrol-ngobrol dulu?" Deg. that moment my heart stop a moment. Really? Aku sempat berpikir Mamah akan seperti ibu-ibu masa kini lain yang ingin acara lamaran anaknya penuh dekorasi, diitingi makeup artisr dan MC. Ya Allah, jika bentuk kecemasanku ini adalah salah satu bentuk suudzan, mohon ampuni aku. Aku sampai bertanya lagi soal rencana acara lamaran formal hanya untuk meyakinkan. Alhamdulillah betapa Mamah merupakan jalan dari Allah menunjukkan kemudahan bagiku. Teringat cerita teman yang menghabiskan puluhan juta hanya untuk acara lamaran.
Tapi dua minggu? Persiapan apa yang bisa kulakukan? Perlukah tukar cincin dan sebagainya? Aku sama sekali tidak punya bayangan makanan macam apa itu lamaran. Bismillah, niat yang baik InsyaAllah akan dimudahkan jalannya oleh Allah. Aamiin.
 Seminggu pertama aku lewati begitu saja karena kesibukan mengurus acara jalan-jalan kantor ke singapura. Mas menyarankan aku belanja sebelum acara, minimal beli baju seragam dengannya untuk acara lamaran nanti dengan mamah-nya (soon to be mamah mertua :p). Ternyata di hari belanja, mamahnya dengan santai memintaku pilih-pilih cincin. Kaget tapi seneng, pake banget karna ga nyangka ternyata mau persiapan cincin juga. Pikir-pikir akhirnya saya undang dua sahabat terbaik saya selama bertahun-tahun (22 year to be exact) untuk bantu dandanin dengan sedikit omelan karna sangat amat mendadak (thank you for everything girls, love you so much!), dan si mas undang pakde yang dituakan di tempatnya untuk bantu ngatur alur pembicaraan.

And the day finally came.

Waktu didandanin masih biasa aja, banget. Ketawa-ketawa ga jelas, ngobrol ngalor ngidul. Begitu keluarganya dateng, rasanya jantung langsung mau loncat, mau ngumpet aja saking grogi dan malunya. But then, bismillahirrahmanirrahim. Allah lancarkan semua sampai acara tukar cincin.

if you like it then you should've put a ring on it~

Boy I've never been happier. Semua terasa sempurna, Alhamdulillah. Terima kasih Allah, memudahkan satu demi satu langkah kami :')

Siapa yang sangka? Benar kata orang batas rasa benci dan cinta itu sangat tipis. Well, I hated him so much, terus sempet sama-sama, terus pisah bertahun-tahun, punya rencana masing-masing, dan ga ada nama kita di rencana itu. Tapi Allah punya rencana lebih baik, punya cara yang unik untuk menyatukan kembali dua pasang manusia. Adam dan hawa yang terpisah sedemikian jauhnya aja ditemuin lagi, apalagi yang satu daerah begini? Alhamdulillah.

Semoga ini jadi awal langkah baik, dalam ridha-Nya. Aamiin. Aamiin. Aamiin ya rabbal aalamiin.

long distance sisters

soon to be sisters, InsyaAllah

No comments:

Post a Comment