Saturday, January 28, 2017

Luka


Aku terduduk lemah di taksi. Tidak pernah aku bayangkan hari ini akan tiba, hari dimana pertama kalinya aku memijakkan kaki di pengadilan agama. Semoga tidak akan pernah lagi.

Kugenggam erat jemari wanita di sebelahku. Kusunggingkan senyum terbaik yang aku bisa lakukan hari itu, beruntung aku selalu kurang tidur, sehingga ia tak akan tahu lingkaran hitam di bawah mataku adalah kado tangisan berhari-hari yang selalu sembunyi-sembunyi aku lakukan.

InsyaAllah ini jalan yang terbaik. Aku hanya bisa bergumam dalam hati, semoga ini memang yang terbaik yang sudah ditakdirkan. Siapa yang kira, Allah selalu punya cara unik untuk mengingatkan, bahwa sepintar apapun kau menutupi, Allah melihat, dan akan Ia bukakan semuanya jika Ia mau. Cukup katakan "kun!"maka jadilah. Baik, buruk, semua akau sangat mudah bagi-Nya.

Siapa yang mengira pria yang seharusnya menjadi satu-satunya yang tidak akan menyakiti hatiku, yang selalu terucap kata cinta dan kasih dari mulutnya, ternyata pribadi yang jauh berbeda di luar sana. Aku seperti tidak pernah mengenalnya. Dengan semua cerita yang kudengar setelah hari itu, aku muak dengan semua kepalsuan yang ia tunjukkan.

Hari berlalu, hingga air mataku bahkan tak bisa lagi keluar. Dan ia masih disini, menyunggingkan senyumnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kemudian aku membaca salah satu cerita, tentang betapa tidak hanya satu orang makhluk bernama laki-laki yang bersifat sama sepertinya. Bahwa mereka mungkin sedang diuji, dan semoga ia segera mendapat hidayah-Nya.

Ia pernah membuat satu luka menganga, yang memakan bertahun-tahun bagiku untuk bisa belajar menyayanginya, belajar menerima bahwa nama keempat yang disebutkan baginda Rasulullah saw. kepada siapa bakti seorang anak manusia adalah namanya.

Dan kini, aku belajar lagi, semoga tidak lama lagi.