Wednesday, July 27, 2016

Pecandu dan Rokoknya

Hampir lima setengah tahun tapi bayangan itu masih menari-nari di kepalaku. Bodoh! Kutatap cincin yang melingkar di jari manis kananku sambil menggenggam erat undangan yang kuterima tadi malam.  Bahkan saat kami sama-sama sudah pelihara monyet masing-masing! Ini seperti pecandu rokok tapi punya asma akut. Enak, tapi nyakitin diri sendiri.

Bayangan itu masih menari, mencakar luka yang sudah hampir kering, merobek kemudian meneteskan obat merah untuk disembuhkan. Dan ketika hampir kering, dicakarnya lagi luka itu. Berulang-ulang tanpa henti.

Namanya juga pecandu, mana mungkin aku bisa berhenti merokok, sampai matipun percuma. Rokok itu sudah seperti oksigen buatku, mungkin aku malah bisa mati kalau berhenti. Dia, rokok itu. Baru saja kupeluk erat setelah sekian lama, meski perih menusuk-nusuk, meski air mata mengalir deras, meski hati mencucurkan darah. Berulang kali terbersit di otakku, kapan aku bisa berhenti?
Kutatap langit pagi yang mendung dan mendesah panjang. Kuhirup lagi sebatang rokok dalam-dalam.

No comments:

Post a Comment