Tuesday, January 22, 2019

See You Later, Honey Bee



Hai nak,
Ibu rindu..

Tak perlu Ibu jelaskan betapa rindunya menyentuh jari-jari mungilmu. Meski telah setahun berlalu, selalu ibu sebut pengharapan yang begitu besar untuk dipertemukan denganmu, pada Allah. Bukan nak, bukan karena omongan orang lain, atau karena kami merasa berlomba dengan pasangan lain. Kami hanya rindu memelukmu, seperti ada yang hilang diantara kami.

Nak, kamu tidak tahu bahagianya Bapak dan Ibu, hanya sekedar melihat dua garis tipis yang menjadi tanda kehadiranmu kala itu. Kami hanya bisa menjagamu dari luar, dan berdoa semoga kami bisa memeluk tubuhmu dan mendengar tangis pertamamu. Dan cinta pada pandangan pertama kami tumbuh begitu besar padamu Nak, hanya karena garis itu.



Tapi Allah jauh jutaan kali lebih mencintaimu dari kami, kami selalu yakin, ini yang terbaik untukmu dan kami, Nak. Kamu sudah memberikan satu bulan terbaik dan terbahagia sepanjang hidup Bapak dan Ibu, hanya dengan melihat dua garis tipis dan foto buram hitam putih bergambar bulatan berwarna lebih gelap, sebagai bukti dirimu pernah mengisi hari-hari terbahagia kami.



Nak, Allah baik, sangat baik memberi kami harapan untuk memilikimu, memberi kami tanda, bahwa kami harus yakin, dan suatu saat nanti kami akan bertemu denganmu, menangis bahagia mendengar tangis pertamamu.

Terima kasih, untuk pernah hadir memberi hari terbaik kami. Sampai bertemu lagi Nak.

Kami, Bapak dan Ibu yang selalu rindu dan mencintaimu.






Thursday, July 6, 2017

Belajar Menghargai


Hargailah setiap bentuk usaha orang lain, setiap titik pemberian orang lain, kita tidak tahu apa yang ada dibaliknya. Tak masalah meski yang lain memberimu seratus ribu, sementara satu orang hanya memberimu sepuluh ribu, mungkin saja hanya uang itu yang ia miliki. Tak masalah meski kau tidak menyukai baju yang diberikan orang lain, mungkin kau tak tahu betapa bahagianya orang itu kala membeli baju itu dengan gaji pertamanya, membayangkan betapa cantik kau terlihat dengan baju itu.

Satu pekerjaan yang terlihat biasa saja untuk kita, kadang terasa begitu luar biasa bagi sebagian yang lain, tergantung bagaimana sudut pandang kita. Memanjat rangka bangunan tinggi rasanya biasa saja bagi para pekerja bangunan, namun menjadi luar biasa bagi para pekerja kantoran.

Belajarlah menghargai dari Rasulullah saw, yang tetap tersenyum menghabiskan sekeranjang buah masam dari seorang mukmin, yang begitu berbahagia melihat Rasul memakan hantarannya.

Belajarlah menghargai, dengan melihat ke bawah dengan kasih sayang, bukan dengan mengukur hasil, tapi menghargai proses. Maka ber-khusnuzhanlah.

Tuesday, May 23, 2017

Percakapan : Aib

👩🏻 : "mas, mas, aku mau ngeshare video yang ngezoom perut kamu, boleh?"

👨🏻 : "jangan ih, itu aib, mau aku sebarin aib kamu?"

👩🏻 : "oh iya ya, eh aku kan janji mau nutup aib kamu ya?" *kemudian pegang perutnya

👨🏻 : "ngapain megangin perut?"

👩🏻 : "lagi nutupin aib kamu 😊"

👨🏻 : "-____-"

Saturday, May 6, 2017

Let Me Walk Beside You Part.1 - Let's Talk


Januari, hari ketika langit temaram dan matahari sudah kembali ke persembunyiannya. "April keluarga aku kesana ya". Tanpa perlu penjelasan rinci maksud perkataanmu, aku sudah mengangguk sumringah. "Ngobrol aja kan?" jawabku dengan sedikit terselip rasa kecewa, April? Mengapa harus menunggu selama itu? Bukankah hal baik harus disegerakan? Seperti paham apa yang ada di kepalaku, kamu melanjutkan, menjelaskan satu dua pertimbangan yang sudah kamu pikirkan, aku mengerti.

Thursday, April 6, 2017

Keteguhan Hati, Ketika Memeluk Semua Kekurangan Adalah Solusi Terbaik

Bukan sesuatu yang sulit bagi-Nya, untuk membolak-balikkan hati manusia, hingga manusia itu merasa berada pada titik terlemahnya, dan berharap hanya keberkahan dari-Nya. Mungkin itu yang saat ini bisa menggambarkan apa yang sedang terjadi pada saya saat ini.

Saturday, January 28, 2017

Luka


Aku terduduk lemah di taksi. Tidak pernah aku bayangkan hari ini akan tiba, hari dimana pertama kalinya aku memijakkan kaki di pengadilan agama. Semoga tidak akan pernah lagi.

Kugenggam erat jemari wanita di sebelahku. Kusunggingkan senyum terbaik yang aku bisa lakukan hari itu, beruntung aku selalu kurang tidur, sehingga ia tak akan tahu lingkaran hitam di bawah mataku adalah kado tangisan berhari-hari yang selalu sembunyi-sembunyi aku lakukan.

InsyaAllah ini jalan yang terbaik. Aku hanya bisa bergumam dalam hati, semoga ini memang yang terbaik yang sudah ditakdirkan. Siapa yang kira, Allah selalu punya cara unik untuk mengingatkan, bahwa sepintar apapun kau menutupi, Allah melihat, dan akan Ia bukakan semuanya jika Ia mau. Cukup katakan "kun!"maka jadilah. Baik, buruk, semua akau sangat mudah bagi-Nya.

Siapa yang mengira pria yang seharusnya menjadi satu-satunya yang tidak akan menyakiti hatiku, yang selalu terucap kata cinta dan kasih dari mulutnya, ternyata pribadi yang jauh berbeda di luar sana. Aku seperti tidak pernah mengenalnya. Dengan semua cerita yang kudengar setelah hari itu, aku muak dengan semua kepalsuan yang ia tunjukkan.

Hari berlalu, hingga air mataku bahkan tak bisa lagi keluar. Dan ia masih disini, menyunggingkan senyumnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kemudian aku membaca salah satu cerita, tentang betapa tidak hanya satu orang makhluk bernama laki-laki yang bersifat sama sepertinya. Bahwa mereka mungkin sedang diuji, dan semoga ia segera mendapat hidayah-Nya.

Ia pernah membuat satu luka menganga, yang memakan bertahun-tahun bagiku untuk bisa belajar menyayanginya, belajar menerima bahwa nama keempat yang disebutkan baginda Rasulullah saw. kepada siapa bakti seorang anak manusia adalah namanya.

Dan kini, aku belajar lagi, semoga tidak lama lagi.

Wednesday, July 27, 2016

Pecandu dan Rokoknya

Hampir lima setengah tahun tapi bayangan itu masih menari-nari di kepalaku. Bodoh! Kutatap cincin yang melingkar di jari manis kananku sambil menggenggam erat undangan yang kuterima tadi malam.  Bahkan saat kami sama-sama sudah pelihara monyet masing-masing! Ini seperti pecandu rokok tapi punya asma akut. Enak, tapi nyakitin diri sendiri.

Bayangan itu masih menari, mencakar luka yang sudah hampir kering, merobek kemudian meneteskan obat merah untuk disembuhkan. Dan ketika hampir kering, dicakarnya lagi luka itu. Berulang-ulang tanpa henti.

Namanya juga pecandu, mana mungkin aku bisa berhenti merokok, sampai matipun percuma. Rokok itu sudah seperti oksigen buatku, mungkin aku malah bisa mati kalau berhenti. Dia, rokok itu. Baru saja kupeluk erat setelah sekian lama, meski perih menusuk-nusuk, meski air mata mengalir deras, meski hati mencucurkan darah. Berulang kali terbersit di otakku, kapan aku bisa berhenti?
Kutatap langit pagi yang mendung dan mendesah panjang. Kuhirup lagi sebatang rokok dalam-dalam.